Kamis, 11 Oktober 2012

T2: Blogger Remaja Diserang, Pakistan Meradang

Blogger Remaja Diserang, Pakistan Meradang
Oleh Nasir Habib, Shaan Khan dan Joe Sterling, CNN
11 Oktober  2012 -- Dimutakhirkan 00.53 GMT (08.53 HKT)

Islamabad, Pakistan (CNN) – Penembakan tragis terhadap seorang blogger remaja telah mengerakkan hati nurani Pakistan, sebuah negara yang telah dijangkiti ekstremisme keras selama bertahun-tahun. Suara-suara penuh kemarahan di media sosial, di jalanan, di koran-koran dan di radio-radio mengutuk penyerangan terhadap Malala Yousufzai (14 thn) sebagai tindakan pengecut dan sebuah contoh ketidakmampuan pemerintah dalam menghadapi para militan. “Saya, paling pertama dan utama, menyalahkan Taliban,” tulis kolumnis Sami Shah di The Express Tribune, sebuah harian lokal berbahasa Inggris. “Saya menyalahkan pemerintah. Semua jajarannya.” Malala perlahan-lahan mulai sembuh pada hari Rabu setelah para ahli bedah berusaha selama tiga jam untuk mengambil sebuah peluru yang bersarang di lehernya.

Malala Yousufzai dalam sebuah acara penghargaan

Pada hari Selasa, militan Taliban menghentikan mobil van yang membawa tiga orang gadis, termasuk Malala, sepulang sekolah di wilayah konservatif Lembah Swat di barat daya Pakistan. Salah seorang pria bersenjata menanyakan yang mana Malala Yousufzai. Ketika mereka memberitahukannya, pria tersebut mulai menembak. Ke-tiga gadis tersebut pun menerima serangan timah panas. Teman-teman Malala tidak mendapatkan luka yang berbahaya. Namun bagi Malala, kondisinya tidak dapat dipastikan pada waktu itu. “Kami senang ia selamat, namun kami mengkhawatirkan kondisi kesehatannya,” ungkap pamannya, Faiz Muhammad, yang menemani Malala di rumah sakit militer di Peshawar.

Pada hari Rabu, pihak kepolisian mengamankan pengemudi van dan penjaga sekolah untuk dimintai keterangan. Mereka juga mengatakan telah mengenali para pelaku. Sementara itu, pihak Taliban telah menyatakan bertanggung jawab untuk serangan tersebut dan mengeluarkan sebuah ancaman keras. “Jika ia selamat kali ini, kali lain tidak,” kata jubir Taliban Pakistan. “Kami pasti akan membunuhnya.”

“Saya punya hak atas pendidikan,” kata Malala kepada CNN dalam sebuah wawancara di tahun 2011. “Saya punya hak untuk bermain. Saya punya hak untuk bernyanyi. Saya punya hak untuk berbicara. Saya punya hak untuk pergi ke pasar. Saya punya hak untuk mengungkapkan pendapat.” Bahkan, masih banyak kata-kata berani Malala saat wawancara mengambil konteks yang lebih menantang. “Ketika orang-orang di sekitarmu membutuhkanmu, kamu harus maju,” katanya pada Reza Sayah dari CNN. “Kamu harus maju dan membela hak-hak mereka.” Malala juga mendorong generasi muda lainnya untuk berdiri melawan Taliban – dan bukannya bersembunyi di kamar mereka. “Tuhan akan bertanya padamu di hari penghakiman, di mana kamu waktu orang-orang bertanya, waktu teman-teman sekolahmu bertanya, dan waktu sekolahmu bertanya ketika Aku disalahartikan?”

Mian Iftikhar Hussein, Menteri Informasi Khyber-Pakhtunkhwa, menyatakan telah mengumumkan hadiah sebesar $ 100.000 bagi yang bisa menangkap para pelaku yang berusaha membunuh Malala. Jenderal Tentara Pakistan Ashfaq Parvez Kayani menjenguk Malala di rumah sakit dan membawa sebuah pesan singkat: “Kami menolak tunduk kepada teror.” Dia juga menyatakan bahwa Taliban tidak menghormati “kata-kata emas” Nabi Muhammad (SAW) bahwa “dia yang tidak mengasihi anak-anak bukan golongan kita.”

“Dengan menyerang Malala, para teroris gagal dalam memahami bahwa Malala bukan hanya seorang manusia biasa, namun sebuah simbol keberanian dan harapan,” ujar Jenderal tersebut. Menteri Utama Punjabi mengatakan bahwa ia akan menanggung biaya perawatan Malala, menyebutnya “anak perempuan Pakistan.” Kepala PIA, maskapai penerbangan nasional, mengatakan ia telah menyiapkan sebuah pesawat untuk membawa remaja putri tersebut “ke bagian dunia mana pun jika perlu” untuk menjalani perawatan. Dua ahli bedah saraf, satu di Amerika dan satu lagi di Inggris, juga telah menyatakan kesediaanya terbang ke Pakistan jika dibutuhkan, ungkap Menteri Dalam Negeri.

Orang-orang Pakistan di seluruh negeri dan dunia yang terluka dan marah melakukan doa bersama. “Taliban tidak akan pernah menjadi seperti Malala,” kata Murtaza Haider, dekan penelitian dan program sarjana Sekolah Manajemen Ted Rogers di Universitas Ryerson Toronto, di kolom opini koran Dawn. “Dia berani, terpelajar, pandai berbicara, dan seorang perempuan muslim muda yang merupakan wajah Pakistan dan harapan bagi sebuah bangsa yang melemah yang tak mampu lagi melindungi anak-anak perempuannya.” “Kalau Taliban mau bertempur, mereka seharusnya memilih lawan yang sepadan,” ujar seorang gadis pada saluran berita lokal.

Shamila Chaudhary, mantan Direktur Dewan Keamanan Nasional AS untuk Afganistan dan Pakistan, mengatakan pada CNN kejadian tersebut menggema di antara para wanita dan remaja putri dan bahkan di kalangan konservatif. “Taliban Pakistan tidak memiliki banyak dukungan di masyarakat Pakistan,” katanya. “Mereka tidak menawarkan layanan dan keadilan sosial, mereka tidak menawarkan alternatif apapun terhadap sebuah pemerintahan yang lemah.” Kejadian terbaru ini “membuat mereka semakin tak-populer” di antara sekian banyaknya orang-orang yang melihat perjuangan Malala dan penolakan Taliban sebagai sebuah “perang antara kebaikan melawan kejahatan,” kata Chaudhary, seorang anggota senior Yayasan Amerika Baru asal Asia Selatan.

Sekjen PBB Ban Ki-moon menyebut tindakan tersebut “keji dan pengecut” pada hari Rabu dan mengatakan para penyerangnya harus diadili. “Sekjen, seperti halnya banyak orang di seluruh dunia, sangat tergerak oleh upaya berani Malal Yousufzai dalam memperjuangkan hak dasar akan pendidikan – seperti tersurat dalam Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia,” ujar seorang perwakilan Ban.

Twitter, barometer terdekat mengenai opini publik, sama-sama mengangkatnya. “Bukannya makhluk kasar yang menodongkan senjata ke kepala Malala yang kecil dilahirkan oleh seorang wanita?” tulis Kamran Shafi. “Apa dia tidak punya saudara perempuan, bibi, seorang atau empat orang istri? Teroris najis keparat!”.

Lembah Swat Pakistan yang indah pernah menjadi tujuan turis yang populer . Lembah tersebut, dekat dengan perbatasan Afganistan dan berjarak sekitar 300 kilometer dari ibukota Islamabad, menjadikan populer satu-satunya resor ski di Pakistan. Lembah tersebut merupakan daya tarik bagi para pemancing ikan trout dan pengunjung reruntuhan Budhis kuno di daerah tersebut. Namun itu sebelum para militan datang – dengan wajah yang ditutupi turban hitam – menyebarkan gelombang kekerasan. Mereka mewajibkan jilbab bagi para perempuan, janggut bagi para pria dan larangan terhadap musik dan televisi. Mereka mengijinkan sekolah anak laki-laki dibuka namun menutup sekolah untuk anak perempuan.

Dalam keadaan ini lah Malala berbicara ke dunia luar melalui blognya. Dia menyatakan pendapatnya dengan cara menulis tentang pergelutan sehari-hari dengan militan ekstremis yang menggunakan rasa takut dan intimidasi untuk memaksa para anak perempuan untuk tinggal di rumah. Tulisan daring Malala mendapatkan Penghargaan Perdamaian Nasional Pakistan pertama di bulan November.
“Aku takut dipenggal oleh Taliban karena hasratku atas pendidikan,” katanya pada CNN pada saat itu. “Di saat mereka berkuasa, Taliban biasa masuk ke dalam rumah untuk memeriksa apakah kami belajar atau menonton televisi.” Ia mengatakan ingin menjadi seorang pemimpin politik, bahwa negaranya “membutuhkan pemimpin-pemimpin yang jujur dan sejati”

Taliban mengendalikan lembah Malala selama bertahun-tahun sampai tahun 2009, ketika pihak militer memberantasnya dalam sebuah operasi yang juga mengevakuasi ribuan keluarga. Namun kantong-kantong Taliban tetap ada, dan kekerasan tidak pernah jauh.

Bagi para pejabat publik Pakistan, ujar Chaudhary, insiden tersebut merupakan pengingat atas tujuan Taliban – menjauhkan anak-anak perempuan dari sekolah dan menerapkan nilai-nilai agama dan budaya garis keras. Banyak yang masih dalam penyangkalan dan belum menerima “sejauh mana Taliban akan lakukan untuk memaksakan nilai-nilai kultural mereka.” Ada juga contoh-contoh kekerasan terhadap perempuan, kata Chaudhary, termasuk pemukulan wanita oleh Taliban yang terekam video beberapa tahun lalu. Hal tersebut merupakan “sebuah kejadian pemicu – membawa banyak elit politik keluar dari penyangkalan mereka,” katanya. “Saya melihat kasus ini hal yang serupa.”

Chaudhary mengatakan ada kesalahpahaman di seluruh dunia bahwa para elit politik bersimpati terhadap Taliban. Hal itu tidak benar, katanya. Mereka takut pada mereka dan pada kemungkinan pembalasan yang kejam terhadap para pejabat dan gedung-gedung pemerintah. Jika pemerintah tidak membahas masalah terbaru ini dan menegakkan keadilan, hal tersebut akan menjadi sebuah “kemunduran”, ungkapnya.

Sami Shah, seorang kolumnis, mengatakan Partai Rakyat Pakistan yang berkuasa turut bersalah. “Bisa saja ada sejuta alasan mengapa Taliban masih dapat beraksi tanpa tersentuh hukum di Pakistan, bahkan banyak yang dilindungi hukum. Namun jika Anda adalah partai yang berkuasa, maka Anda harus menerima tanggung jawab atas kegagalanmu. Dan PPP telah gagal total.”



Teks asli: http://edition.cnn.com/2012/10/10/world/asia/pakistan-teen-activist-attack/index.html?hpt=ias_c1

Tidak ada komentar:

Posting Komentar