Blogger Remaja
Diserang, Pakistan Meradang
Oleh
Nasir Habib, Shaan Khan dan Joe Sterling, CNN
11
Oktober 2012 -- Dimutakhirkan 00.53 GMT
(08.53 HKT)
Islamabad, Pakistan (CNN)
– Penembakan tragis terhadap seorang blogger remaja telah mengerakkan hati
nurani Pakistan, sebuah negara yang telah dijangkiti ekstremisme keras selama
bertahun-tahun. Suara-suara penuh kemarahan di media sosial, di jalanan, di
koran-koran dan di radio-radio mengutuk penyerangan terhadap Malala Yousufzai
(14 thn) sebagai tindakan pengecut dan sebuah contoh ketidakmampuan pemerintah
dalam menghadapi para militan. “Saya, paling pertama dan utama, menyalahkan
Taliban,” tulis kolumnis Sami Shah di The Express Tribune, sebuah harian lokal
berbahasa Inggris. “Saya menyalahkan pemerintah. Semua jajarannya.” Malala
perlahan-lahan mulai sembuh pada hari Rabu setelah para ahli bedah berusaha
selama tiga jam untuk mengambil sebuah peluru yang bersarang di lehernya.
![]() |
| Malala Yousufzai dalam sebuah acara penghargaan |
Pada hari Selasa, militan Taliban menghentikan mobil van
yang membawa tiga orang gadis, termasuk Malala, sepulang sekolah di wilayah
konservatif Lembah Swat di barat daya Pakistan. Salah seorang pria bersenjata
menanyakan yang mana Malala Yousufzai. Ketika mereka memberitahukannya, pria
tersebut mulai menembak. Ke-tiga gadis tersebut pun menerima serangan timah
panas. Teman-teman Malala tidak mendapatkan luka yang berbahaya. Namun bagi
Malala, kondisinya tidak dapat dipastikan pada waktu itu. “Kami senang ia
selamat, namun kami mengkhawatirkan kondisi kesehatannya,” ungkap pamannya,
Faiz Muhammad, yang menemani Malala di rumah sakit militer di Peshawar.
Pada hari Rabu, pihak kepolisian mengamankan pengemudi van dan
penjaga sekolah untuk dimintai keterangan. Mereka juga mengatakan telah
mengenali para pelaku. Sementara itu, pihak Taliban telah menyatakan
bertanggung jawab untuk serangan tersebut dan mengeluarkan sebuah ancaman
keras. “Jika ia selamat kali ini, kali lain tidak,” kata jubir Taliban
Pakistan. “Kami pasti akan membunuhnya.”
“Saya punya hak atas pendidikan,” kata Malala kepada CNN
dalam sebuah wawancara di tahun 2011. “Saya punya hak untuk bermain. Saya punya
hak untuk bernyanyi. Saya punya hak untuk berbicara. Saya punya hak untuk pergi
ke pasar. Saya punya hak untuk mengungkapkan pendapat.” Bahkan, masih banyak
kata-kata berani Malala saat wawancara mengambil konteks yang lebih menantang. “Ketika
orang-orang di sekitarmu membutuhkanmu, kamu harus maju,” katanya pada Reza Sayah
dari CNN. “Kamu harus maju dan membela hak-hak mereka.” Malala juga mendorong
generasi muda lainnya untuk berdiri melawan Taliban – dan bukannya bersembunyi
di kamar mereka. “Tuhan akan bertanya padamu di hari penghakiman, di mana kamu
waktu orang-orang bertanya, waktu teman-teman sekolahmu bertanya, dan waktu
sekolahmu bertanya ketika Aku disalahartikan?”
Mian Iftikhar Hussein, Menteri Informasi Khyber-Pakhtunkhwa,
menyatakan telah mengumumkan hadiah sebesar $ 100.000 bagi yang bisa menangkap
para pelaku yang berusaha membunuh Malala. Jenderal Tentara Pakistan Ashfaq
Parvez Kayani menjenguk Malala di rumah sakit dan membawa sebuah pesan singkat:
“Kami menolak tunduk kepada teror.” Dia juga menyatakan bahwa Taliban tidak
menghormati “kata-kata emas” Nabi Muhammad (SAW) bahwa “dia yang tidak
mengasihi anak-anak bukan golongan kita.”
“Dengan menyerang Malala, para teroris gagal dalam memahami
bahwa Malala bukan hanya seorang manusia biasa, namun sebuah simbol keberanian
dan harapan,” ujar Jenderal tersebut. Menteri Utama Punjabi mengatakan bahwa ia
akan menanggung biaya perawatan Malala, menyebutnya “anak perempuan Pakistan.” Kepala
PIA, maskapai penerbangan nasional, mengatakan ia telah menyiapkan sebuah
pesawat untuk membawa remaja putri tersebut “ke bagian dunia mana pun jika
perlu” untuk menjalani perawatan. Dua ahli bedah saraf, satu di Amerika dan
satu lagi di Inggris, juga telah menyatakan kesediaanya terbang ke Pakistan
jika dibutuhkan, ungkap Menteri Dalam Negeri.
Orang-orang Pakistan di seluruh negeri dan dunia yang
terluka dan marah melakukan doa bersama. “Taliban tidak akan pernah menjadi
seperti Malala,” kata Murtaza Haider, dekan penelitian dan program sarjana
Sekolah Manajemen Ted Rogers di Universitas Ryerson Toronto, di kolom opini
koran Dawn. “Dia berani, terpelajar, pandai berbicara, dan seorang perempuan
muslim muda yang merupakan wajah Pakistan dan harapan bagi sebuah bangsa yang
melemah yang tak mampu lagi melindungi anak-anak perempuannya.” “Kalau Taliban
mau bertempur, mereka seharusnya memilih lawan yang sepadan,” ujar seorang
gadis pada saluran berita lokal.
Shamila Chaudhary, mantan Direktur Dewan Keamanan Nasional
AS untuk Afganistan dan Pakistan, mengatakan pada CNN kejadian tersebut
menggema di antara para wanita dan remaja putri dan bahkan di kalangan
konservatif. “Taliban Pakistan tidak memiliki banyak dukungan di masyarakat
Pakistan,” katanya. “Mereka tidak menawarkan layanan dan keadilan sosial,
mereka tidak menawarkan alternatif apapun terhadap sebuah pemerintahan yang lemah.”
Kejadian terbaru ini “membuat mereka semakin tak-populer” di antara sekian
banyaknya orang-orang yang melihat perjuangan Malala dan penolakan Taliban
sebagai sebuah “perang antara kebaikan melawan kejahatan,” kata Chaudhary,
seorang anggota senior Yayasan Amerika Baru asal Asia Selatan.
Sekjen PBB Ban Ki-moon menyebut tindakan tersebut “keji dan
pengecut” pada hari Rabu dan mengatakan para penyerangnya harus diadili. “Sekjen,
seperti halnya banyak orang di seluruh dunia, sangat tergerak oleh upaya berani
Malal Yousufzai dalam memperjuangkan hak dasar akan pendidikan – seperti
tersurat dalam Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia,” ujar seorang perwakilan
Ban.
Twitter, barometer terdekat mengenai opini publik, sama-sama
mengangkatnya. “Bukannya makhluk kasar yang menodongkan senjata ke kepala Malala
yang kecil dilahirkan oleh seorang wanita?” tulis Kamran Shafi. “Apa dia tidak
punya saudara perempuan, bibi, seorang atau empat orang istri? Teroris najis
keparat!”.
Lembah Swat Pakistan yang indah pernah menjadi tujuan turis
yang populer . Lembah tersebut, dekat dengan perbatasan Afganistan dan berjarak
sekitar 300 kilometer dari ibukota Islamabad, menjadikan populer satu-satunya
resor ski di Pakistan. Lembah tersebut merupakan daya tarik bagi para pemancing
ikan trout dan pengunjung reruntuhan Budhis kuno di daerah tersebut. Namun itu
sebelum para militan datang – dengan wajah yang ditutupi turban hitam – menyebarkan
gelombang kekerasan. Mereka mewajibkan jilbab bagi para perempuan, janggut bagi
para pria dan larangan terhadap musik dan televisi. Mereka mengijinkan sekolah
anak laki-laki dibuka namun menutup sekolah untuk anak perempuan.
Dalam keadaan ini lah Malala berbicara ke dunia luar melalui
blognya. Dia menyatakan pendapatnya dengan cara menulis tentang pergelutan
sehari-hari dengan militan ekstremis yang menggunakan rasa takut dan intimidasi
untuk memaksa para anak perempuan untuk tinggal di rumah. Tulisan daring Malala
mendapatkan Penghargaan Perdamaian Nasional Pakistan pertama di bulan November.
“Aku takut dipenggal oleh Taliban karena hasratku atas
pendidikan,” katanya pada CNN pada saat itu. “Di saat mereka berkuasa, Taliban
biasa masuk ke dalam rumah untuk memeriksa apakah kami belajar atau menonton
televisi.” Ia mengatakan ingin menjadi seorang pemimpin politik, bahwa
negaranya “membutuhkan pemimpin-pemimpin yang jujur dan sejati”
Taliban mengendalikan lembah Malala selama bertahun-tahun
sampai tahun 2009, ketika pihak militer memberantasnya dalam sebuah operasi yang
juga mengevakuasi ribuan keluarga. Namun kantong-kantong Taliban tetap ada, dan
kekerasan tidak pernah jauh.
Bagi para pejabat publik Pakistan, ujar Chaudhary, insiden
tersebut merupakan pengingat atas tujuan Taliban – menjauhkan anak-anak
perempuan dari sekolah dan menerapkan nilai-nilai agama dan budaya garis keras.
Banyak yang masih dalam penyangkalan dan belum menerima “sejauh mana Taliban
akan lakukan untuk memaksakan nilai-nilai kultural mereka.” Ada juga
contoh-contoh kekerasan terhadap perempuan, kata Chaudhary, termasuk pemukulan
wanita oleh Taliban yang terekam video beberapa tahun lalu. Hal tersebut
merupakan “sebuah kejadian pemicu – membawa banyak elit politik keluar dari
penyangkalan mereka,” katanya. “Saya melihat kasus ini hal yang serupa.”
Chaudhary mengatakan ada kesalahpahaman di seluruh dunia
bahwa para elit politik bersimpati terhadap Taliban. Hal itu tidak benar,
katanya. Mereka takut pada mereka dan pada kemungkinan pembalasan yang kejam
terhadap para pejabat dan gedung-gedung pemerintah. Jika pemerintah tidak
membahas masalah terbaru ini dan menegakkan keadilan, hal tersebut akan menjadi
sebuah “kemunduran”, ungkapnya.
Sami Shah, seorang kolumnis, mengatakan Partai Rakyat
Pakistan yang berkuasa turut bersalah. “Bisa saja ada sejuta alasan mengapa
Taliban masih dapat beraksi tanpa tersentuh hukum di Pakistan, bahkan banyak
yang dilindungi hukum. Namun jika Anda adalah partai yang berkuasa, maka Anda
harus menerima tanggung jawab atas kegagalanmu. Dan PPP telah gagal total.”
Teks
asli: http://edition.cnn.com/2012/10/10/world/asia/pakistan-teen-activist-attack/index.html?hpt=ias_c1

Tidak ada komentar:
Posting Komentar