Minggu, 19 Februari 2012

Mbolang Malang Pt. 4 Bahgian ampat


ini sambungan mbolang malang pt. 3
Bahgian ampat
*AUX
GPL alias gak pakek lama sampailah kami di Alun-alun Tugu. Tempat ini sudah pernah dilewati waktu mbolang part 2. Tetep aja kok gedung-gedungnya. Balai kota. SMUN 1. SMUN 4. Gedung DPRD. Splendid Inn. Di depan SMUN 4 kita mandeg minum es degan. Cuacanya sih mendung/berawan tapi kalo abis jalan kaki keliling kota yo kesel pisan jeh
balai kota di latar belakang alun2 tugu
Waktu minum es degan ada dokar wisata lewat. Dokar wisata itu berkeliling sekitar alun-alun tugu. Waktu di ‘rusun Belanda’ tadi ketemu juga sama tuh dokar. Dokar itu lah yang mencetuskan percakapan berikut ini.
Aku (A) : he awakmu gak pingin nyoba ditabrak dokar a?
NS    : maksudmu?
A      : koyok sinetron-sinteron iku lo. Lak biasae geger, terus onok sing lari keluar rumah, moro-moro udan trus ketabrak mobil. Na saiki ketabrak dokar.
NS    : trus?
A      : ngkok tak telpone mamamu, ‘halo, siang tante, ini temennya mbak sarie. Anu tante, mbak sarie ketabrak dokar ini.’
NS    : iyo terus mamaku tanya ‘tapi dokarnya gak pa-pa kan? Kalo anak tante itu tinggal dibawa ke rumah sakit. Rumah sakit kan banyak. Tapi kalo bengkel dokar tante gak tau nyari di mana dik..’
A+NS : tertawa-tawa di pinggir jalan kayak orang gila lepas dari Lawang.
 Setelah selesai membayangkan skenario sinteron ketabrak dokar dan tertawa-tawa kita lanjutkan perjalanan.

*rawon tessy
Waktu sampai di Legipait jam masih menunjukkan belum-pukul-tiga. Itu artinya ntu kafe belum buka. Daripada nganggur nunggu kafe buka kita putuskan untuk makan dulu. Kita baru sadar kalo belum makan nasi seharian. Mumpung dekat dengan stasiun jadi ingat kalo ada Rawon Tessy di deket stasiun yang waktu mbolang part 2 gak sempet disamperin.
Jalan yang dipilih menuju stasiun melewati pasar klojen. Sebenarnya bisa aja lewat jalan Sultan Agung supaya lebih dekat. Tapi namanya juga mbolang. Dalane kudu mbulet. Le' gak mbulet gak mbolang jenenge. Hehehe.
Sampailah di Rawon Tessy. Kita pesen nasi rawon dua, tempe dua, dan es teh juga dua. Rawonnya enak. Tempenya enak. Es tehnya pun enak. Enak semua deh. Harganya juga murah. Total habisnya tiga puluh ribu rupiah. Itu sudah nambah es teh dua gelas.
enak+murah
Tapi kalo soal rawon masih lebih enak rawon di dekat pertigaan jalan Dinoyo. THE BEST RAWON I'VE EVER HAD! Jadi ingin makan rawon Dinoyo itu...hmmmm...rawon....

*last stop
Selesai makan kita melanjutkan perjalanan kembali ke stasiun. Karena hari sudah menjelang sore dan sesuai dengan kesepakatan awal untuk mengakhiri mbolang di Legipait maka kuambil motor dari parkiran stasiun dan membonceng Ni Sanak ke Legipait. Jadi total sudah tiga (3) kali kita ke sana. Bener-bener "pengacara" kok. 
Legipait
Legipait tempatnya kecil mungil meh sak upil. Dulu tempat ini dipakai jualan rujak sebelum ditempati Legipait. Tempatnya pun old school puooll alias bangunan tua. Entah waktu jaman VOC dipakek buat apa ni bangunan. Di bagian luar tempat duduknya bisa digunakan untuk orang banyak. Bangku yang dipakai seperti bangku kayu jaman sekolah yang biasa dipakai berdua; bertiga kalo di tingkat SD. Kalo di bagian dalam tempat duduknya hanya bisa untuk berdua atau bertiga. Ada sebuah rak buku di bagian dalam. Isinya mulai dari novel sampai majalah yang bisa dibaca di tempat. Di bagian kiri rak buku adalah ruangan untuk cuci piring dan toilet. Ditutupi kerai dari kerang/manik-manik supaya gak mengganggu pemandangan para pengunjung. Sedang di kanannya adalah ruang bar tempat kita pesan dan juga kasir.
Biarpun tempatnya lawas dan kecil tempat ini selalu ramai. Soalnya enak dibuat nongkrong. Menurutku Legipait ini lebih berkesan ‘keluarga’ daripada ‘kafe’. Jadi ia punya karakternya sendiri. Lebih mendekati kopitiam/warkop daripada kafe. Entah karena tempatnya yang memang kecil jadi membuat kita selalu berdekatan atau karena orang-orangnya yang memang lebih ramah daripada di kafe lain. Belum ada survei yang dilakukan jadi yo mboh ker.
Cara pesan di sini itu kita datang ke bagian bar. Tulis pesanannya apa aja plus tulis nama juga. Serahkan ke kokinya atau siapa pun yang berada di belakang bar (kadang-kadang aku yang nerima soalnya sering jadi sukarelawan kalo ke sini walaupun niat awalnya adalah sebagai pengunjung). Cari tempat duduk dan nanti akan diantar pesanannya. Jadi kalo mau kerja di sini kudu punya ingatan yang baik atau suara yang keras buat manggil nama pemesan. Aku pesan jus strawberry sedangkan Ni Sanak tidak pesan apa-apa. Entah kenapa waktu itu kok selalu ingin pesan jus pink. Apa karena naluri centil ya? Tinta pahabibi deh cyint!
apple juice and strawberry juice
Aku dan Ni Sanak menempati tempat duduk di luar soalnya di dalam sudah penuh. Kita duduk di luar itu pun tidak lama karena ada tempat di pojok bagian dalam yang sudah ditinggal sama pengunjung sebelumnya. Kepindahan kita juga menyenangkan orang-orang di belakang kita lho. Jadi mereka itu awalnya hanya ada dua orang saja tapi lama kelamaan bertambah banyak sampai kekurangan tempat duduk. Untung aja kita pindah jadi mereka bisa dapat tempat duduk lebih luas. Untungnya lagi, tak lama setelah itu hujan turun dengan dahsyatnya! Syukur alhamdulillah yah…
Setelah pindah ke dalam barulah Ni Sanak memesan jus apel. Kita gak pesen makan soalnya masih kenyang. Kalo perut masih muat sih aku bakal pesan menu yang namanya ‘banana go to hell’ ama pancake. Enak semua itu. 
banana go to hell with pancake
Karena pemiliknya bisa baca tarot maka wajar kalo ada kartu tarot numpuk di rak bukunya. Iseng-iseng kuramal Ni Sanak. Hasilnya adalah benar-benar absurd. Lha wong asline gak ngerti carae kok. Hehehe. Kita ngafe di sana sampek sekitar jam setengah enam. Habis itu kuantar Ni Sanak ke Alun-alun Tugu dan kulepas dia supaya bisa kembali ke habitatnya. Sedangkan aku pulang ke Landungsari.
And that's the end of mbolang part 3.

Glosarium:
 banana go to hell: nama menu di legipait berupa pisang yang dimasak bersama dengan mentega dan disajikan dengan gula cair
and that's the end of mbolang part 3 : dan demikianlah akhir dari mbolang part 3
asline me’ : sebenarnya hanya
AUX : istilah dalam dunia call center yang berarti ‘waktu istirahat’.
dalane kudu mbulet. le' gak mbulet gak mbolang jenenge : jalannya harus ruwet. Jika tidak ruwet bukan mbolang namanya.
last stop : pemberhentian terakhir
lha wong asline gak ngerti carae kok : sebenarnya tidak mengerti bagaimana caranya
old school : gaya lama
Tinta pahabibi deh cyint: tidak mengerti deh say (jangan tanya bagaimana aku bisa tahu bahasa ini)
THE BEST RAWON I'VE EVER HAD: rawon terenak yang pernah kumakan
yo kesel pisan jeh : ya capai juga bung
yo mboh ker : ya tidak tahu bung