Rabu, 01 Februari 2012

Mbolang Malang Pt. 3


Cerita mbolang ini adalah postingan beneran pertama di djarekoe. Supaya gak berat maka akan dibagi menjadi beberapa episode. Biar serasa sinetron gitu lah (minus adegan ketabrak kendaraan bermotor di kala hujan waktu malam hari). :-D
Ini adalah catatan mbolang ke-tiga-ku. Catatan mbolang pertama dan ke-dua malah belum dibuat. Hahaha. Jadi cerita mbolang ini selengkapnya akan bersifat regresif-progresif (cari sendiri artinya ya?). Tetap bersama rekan mbolang merangkap guide sejak awal, Ni Sanak. Lokasi mbolang-nya pun masih tetep di kota Malang. Masih belum kepikiran berganti kota. 
FYI, mbolang kali ini hampir saja tidak terlaksana. Soalnya Ni Sanak sempat bilang gak bisa mbolang dengan alasan yang tidak jelas. Begitu sudah pasti batal dan aku baru akan memikirkan kegiatan lain, eeh sekonyong-konyong dia bilang bisa. Haish mboh kah! Sing penting mbolang lah!
Bahgian satoe
*rendez-vous
Setelah ber-SMS dan ber-BBM ngalor ngidul ngetan ngulon soal konfirmasi tempat ketemuan malam sebelumnya akhirnya kita janjian bertemu di Stasiun Kota jam 10 pagi di hari Senin tanggal 2 Januari 2012. Tapi aku sendiri baru keluar dari rumah nenek di Landungsari jam 10. Aku nyampek stasiun sekitar jam 10.30 dengan pemeo “The king always comes later” di kepalaku. Itu artinya dia yang akan menungguku. Hohoho.
Stasiun Kota Malang
 Setelah parkir motor di tempat parkiran (mau di WC gak boleh soalnya) bergeraklah diriku ke bagian loket. Lihat kanan. Lihat kiri. Lihat depan. Lihat belakang. Lihat atas. Lihat bawah. Namun tidak kutemukan wujud makhluk tersebut.
Ke mana dia?
Tersesat? Tidak mungkin.
Stasiun kan masih wilayah roaming-nya.
Diculik? Penculik juga gak bego-bego amat.
Ndak prospek nyulik begituan.
Ketiduran? Hanya itu penjelasan paling logis yang bisa terpikirkan.
Timbang mikir kemungkinan-2 lain yang semakin ajaib kutelponlah dia. Dan…eh…la kok ya ternyata y.b.s. masih leyeh-leyeh di rumah sambil nonton tipi. Dengan ketawa-ketiwi yang menyiratkan ketiadaan rasa bersalah dia berkata baru akan berangkat. Susah melawan orang Indonesia ya. Sudah ditelat-telatin tapi masih ada yang bisa datang lebih telat lagi. Hmmmppff.
Setelah menunggu sekitar 15 menit akhirnya dia muncul di stasiun. Dan dimulailah perjalanan mbolang kita. Dan tentu saja mbolang ini dilakukan (dan harus selalu) dengan berjalan kaki. J

*first stop
Tujuan pertama mbolang kali ini adalah Bakso Bakar di jalan Dr. Cipto. Apa itu bakso bakar? Ya bakso dibakar, mau penjelasan apalagi? Dulu aku pernah makan bakso bakar juga di Malang. Seingatku sih di Ijen. Tapi Ni Sanak bilang gak ada bakso bakar di Ijen. Jadi selama perjalanan ke Dr Cipto itu isinya didominasi perdebatan lokasi bakso bakar tok wes.
Dari stasiun kita berjalan ke utara lalu belok ke barat (baca: kiri) ke jalan Pajajaran. Yang aku suka dari kegiatan mbolang ini adalah bisa dengan pelan-pelan melihat-lihat oude Nederlands huis (omah londo lawas). Di Malang itu ada banyak Nederlandse huizen. Telece’an le’ jareku.
Dari Pajajaranstraat kita belok kanan. Pas lagi jalan kok nemu Bakso XXX (baksoe enak tapi aku lupa namanya, maap ya…). Aku hanya mbatin “rasae kok tau bakso ini ya?” Jalan dikit lagi lha kok malah nemu Legipait, kafenya Doni. OMG! Ternyata dari jalan Sultan Agung itu bisa juga ke jalan Pattimura to?! Kalo tau dari dulu gak perlu sampek muter jauh lewat RS. Saiful Anwar!!
Begitu tau itu rasanya seperti ada selubung yang diambil dari hadapanku..seperti melepas kacamata Ray Ban dengan UV Protection 15000 dari mataku..seperti mendapatkan pencerahan di bawah Pohon Bodhi…seperti mendapatkan peta harta karun lengkap dengan GPS-nya…lebay gak seh?!...hahahaha...Ni Sanak tertarik dengan kafe itu tapi karena belum buka, maka diputuskan untuk menjadikannya tujuan terakhir dari mbolang kali ini. Sippp lah…
Daripada berlama-lama di depan kafe tutup, dan supaya tidak dicurigai mau merampok, kita melanjutkan perjalanan menuju bakso bakar. Dari Legipait kita jalan ke utara melewati jalan Thamrin. Di jalan ini ternyata ada persewaan sepeda motor lho. Kirain cuma di Bali doang ada kayak ginian. Kita seh gak mampir jadi gak tau tarifnya berapa. Hehe. Lagian kita kan mbolangnya on foot. Haram kalo pakek kendaraan (kecuali naik kuda atau dokar).
Masih di sekitaran jalan Thamrin kita nemu pasar loak. Lebih tepatnya para pedagang barang bekas yang berhimpun di satu tempat itu. Entah barang bekas dipakai terus dibuang atau barang ‘bekas’ punya orang yang tidak dibuang tapi muncul di lapaknya para pedagang tersebut. Hehehe. Macem-macem pula yang dijual. Ada onderdil sepeda tua, PCB, tas, sepatu butut, jam tangan, hape, bahkan blackberry! Kira-kira ada BB Bellagio gak ya? Hmmm...

*oude nederlandse huizen
Dari pasar loak kita belok ke Jalan Kartini. Di jalan ini kita nemu Nederlands huis kosong yang ayu ting-ting tenan. Gaya bangunannya sih sama seperti semua rumah Belanda lain. Ada teras kecil yang dikelilingi tembok rendah. Jendela besar yang menghadap jalan. Ada semacam garasi di samping rumah yang sejalan dengan pagar masuk.
Rumah ini tembok depannya dicat warna krem jadi memberikan kesan hangat. Sekilas melihat dari sela-sela pintu yang menutup jalan garasi tadi kayaknya bagian belakang rumah ini juga luas deh. Mungkin kalo Legipait mau pindah ke tempat yang lebih gede bakal bagus ni rumah. Tapi sayang pagarnya digembok jadi kita cuma bisa melihat dari luar. Sayang gak ngambil fotonya. (Akhirnya aku pergi lagi ke Malang untuk melengkapi foto blog ini. Di foto ini pekarangannya sudah dibersihkan. Waktu mbolang dulu rumput2nya gak beraturan soalnya).
menyenangkan untuk dilihat
Kita menemukan rumah Belanda lain setelah berjalan melewati dua atau tiga rumah setelah rumah krem tadi. Rumah ke-dua ini lebih luas pekarangannya tapi nuansanya lebih suram. Selain karena pekarangannya gak terurus (namanya juga rumah kosong) warna cat rumahnya itu hitam/abu-abu. Makanya keliatan suram seram gitu. Tapi rumah yang ke-dua ini ternyata pagarnya tidak digembok jadi kita bisa masuk ke dalam untuk melihat-lihat. Anggap aja jadi orang kaya yang mau beli rumah padahal asline me’ dua pengangguran lagi jalan-jalan. Hahaha!
hitam/abu-abu? maap salah nyebut warna :-p
Seperti yang kutulis di atas, rumah ke-dua ini memiliki nuansa suram seram. Coba nuansa bening pasti bakal ada Vidi Aldiano nongol di situ hehehe…Entah sugesti ato apa sewaktu masuk dan mendekati rumah yang ke-dua ini kok bulu rhoma irama jadi merinding ya. Padahal aku ini lulusan Psikologi, sudah pernah mempelajari tentang teori sensasi, terutama tentang rasa takut yang sampek ada empat teori itu. Tapi kalo sudah menghadapi situasi kayak gini, lali kabeh wes! Yang diingat cuma pelajaran agama waktu SMP, kalo masuk tempat yang baru sebaiknya mengucapkan salam dalam hati. And that I did. Assalamualaikum…
Tapi karena sudah terlanjur buka pagar masak ya mundur. Sekalian aja liak-liak. Masih asik melihat-lihat sekitar dan mengintip via pintu garasi, Ni Sanak sudah mendekati pintu masuk dan mengintip ke dalamnya. Karena penasaran juga gimana isinya akhirnya mengintip jugalah diriku. Wow keren! Tekelnya masih tempo doeloe. Hiasan dindingnya pun juga masih tempo doeloe. Apa dulunya meneer pemilik rumah kabur buru-buru waktu Nippon masuk ya? Anyway the interior is old-schoolly-cool! Sayang cuma bisa ngintip ruang tamunya. Tapi kalo dipikir-pikir untung cuma bisa ngintip doang.
Gimana nggak? Pas ngintip itu ada perasaan "wow keren" dan "merinding bulu rhoma irama" secara bersamaan. Kan gak keren aja kalo pas ngintip tiba-tiba ada anak perempuan bule pakek daster putih ngintip dari balik tembok. OMG!! Bisa-bisa masuk koran kita berdua dengan tajuk "Dua Orang Pengangguran Ditemukan Tewas Pingsan di Depan Rumah Tua"!! Ahahaha…Puas ngintip dan mendirikan bulu rhoma irama kita pamit (entah ke siapa) dan meneruskan perjalanan ke tempat bakso bakar.
  bersambung...
Glosarium:
and that i did : dan itulah yang kulakukan
anyway the interior is old-schoolly-cool : biarpun gitu interiornya jadul-keren
ayu ting-ting tenan : cantik sekali
first stop : pemberhentian pertama
GPS: Global Positioning System
haish mboh kah! sing penting mbolang lah! : tidak tahu lah! yang penting mbolang deh!
lali kabeh wes : lupa semua deh
lha : lho
liak-liak: melihat-lihat (logat Cina-Surabaya)
nederlandse huizen: rumah-rumah Belanda
ngalor ngidul ngetan ngulon: ke utara-selatan-timur-barat, maksudnya ke mana-mana
nyulik : menculik
omah londo lawas: oude nederlands huis J
on foot : dengan berjalan kaki
oude nederlands huis: omah londo lawas J
pajajaranstraat : jalan Pajajaran
PCB: tanya toko elektrik terdekat ae yo?..opo nggoogle’o dhewe..
rendez-vous : pertemuan (bahasa Perancis)
roaming : wilayah jelajah
sampek : sampai
seh : sih
telece’an le’ jareku : bertebaran/berhamburan kalau menurutku
the king always comes later : raja selalu datang terakhir. Protokol kerajaan Inggris mengenai kehadiran raja/ratu di suatu acara.
tok wes : ‘hanya itu’; ungkapan untuk menekankan pada satu hal tertentu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar