Cerita mbolang ini adalah postingan
beneran pertama di djarekoe. Supaya gak berat maka akan dibagi menjadi beberapa episode. Biar serasa sinetron gitu lah (minus adegan ketabrak kendaraan bermotor
di kala hujan waktu malam hari). :-D
Ini adalah catatan mbolang ke-tiga-ku.
Catatan mbolang pertama dan ke-dua malah belum dibuat. Hahaha. Jadi cerita
mbolang ini selengkapnya akan bersifat regresif-progresif (cari sendiri artinya
ya?). Tetap bersama rekan mbolang merangkap guide sejak awal, Ni Sanak. Lokasi mbolang-nya pun masih tetep di kota Malang. Masih belum
kepikiran berganti kota.
FYI, mbolang kali ini hampir saja tidak
terlaksana. Soalnya Ni Sanak sempat bilang gak bisa mbolang dengan alasan yang
tidak jelas. Begitu sudah pasti batal dan aku baru akan memikirkan kegiatan
lain, eeh sekonyong-konyong dia bilang bisa. Haish mboh kah! Sing penting mbolang lah!
Bahgian
satoe
*rendez-vous
Setelah ber-SMS dan ber-BBM ngalor ngidul ngetan ngulon soal konfirmasi
tempat ketemuan malam sebelumnya akhirnya kita janjian bertemu di Stasiun Kota
jam 10 pagi di hari Senin tanggal 2 Januari 2012. Tapi aku sendiri baru keluar dari rumah nenek di Landungsari jam
10. Aku nyampek stasiun sekitar jam 10.30 dengan pemeo “The king always comes later” di kepalaku. Itu artinya dia yang akan
menungguku. Hohoho.
| Stasiun Kota Malang |
Ke mana dia?
Tersesat? Tidak mungkin.
Stasiun kan masih
wilayah roaming-nya.
Diculik? Penculik juga gak bego-bego
amat.
Ndak prospek nyulik begituan.
Ketiduran? Hanya itu penjelasan paling
logis yang bisa terpikirkan.
Timbang mikir kemungkinan-2 lain yang
semakin ajaib kutelponlah dia. Dan…eh…la kok ya ternyata y.b.s. masih
leyeh-leyeh di rumah sambil nonton tipi. Dengan ketawa-ketiwi yang menyiratkan
ketiadaan rasa bersalah dia berkata baru akan berangkat. Susah melawan orang
Indonesia ya. Sudah ditelat-telatin tapi masih ada yang bisa datang lebih telat
lagi. Hmmmppff.
Setelah menunggu sekitar 15 menit
akhirnya dia muncul di stasiun. Dan dimulailah perjalanan mbolang kita. Dan
tentu saja mbolang ini dilakukan (dan harus selalu) dengan berjalan kaki. J
*first
stop
Tujuan pertama mbolang kali ini adalah
Bakso Bakar di jalan Dr. Cipto. Apa itu bakso bakar? Ya bakso dibakar, mau
penjelasan apalagi? Dulu aku pernah makan bakso bakar juga di Malang. Seingatku
sih di Ijen. Tapi Ni Sanak bilang gak ada bakso bakar di Ijen. Jadi selama
perjalanan ke Dr Cipto itu isinya didominasi perdebatan lokasi bakso bakar tok wes.
Dari stasiun kita berjalan ke utara lalu
belok ke barat (baca: kiri) ke jalan Pajajaran. Yang aku suka dari kegiatan
mbolang ini adalah bisa dengan pelan-pelan melihat-lihat oude Nederlands huis (omah
londo lawas). Di Malang itu ada banyak Nederlandse
huizen. Telece’an le’ jareku.
Dari Pajajaranstraat kita belok kanan. Pas lagi jalan kok nemu Bakso XXX
(baksoe enak tapi aku lupa namanya, maap ya…). Aku hanya mbatin “rasae kok tau bakso
ini ya?” Jalan dikit lagi lha kok
malah nemu Legipait, kafenya Doni. OMG! Ternyata dari jalan Sultan Agung itu
bisa juga ke jalan Pattimura to?! Kalo tau dari dulu gak perlu sampek muter
jauh lewat RS. Saiful Anwar!!
Begitu tau itu rasanya seperti ada
selubung yang diambil dari hadapanku..seperti melepas kacamata Ray Ban dengan
UV Protection 15000 dari mataku..seperti mendapatkan pencerahan di bawah Pohon
Bodhi…seperti mendapatkan peta harta karun lengkap dengan GPS-nya…lebay gak
seh?!...hahahaha...Ni Sanak tertarik dengan kafe itu tapi karena belum buka, maka
diputuskan untuk menjadikannya tujuan terakhir dari mbolang kali ini. Sippp
lah…
Daripada berlama-lama di depan kafe
tutup, dan supaya tidak dicurigai mau merampok, kita melanjutkan perjalanan
menuju bakso bakar. Dari Legipait kita jalan ke utara melewati jalan Thamrin. Di
jalan ini ternyata ada persewaan sepeda motor lho. Kirain cuma di Bali doang
ada kayak ginian. Kita seh gak mampir
jadi gak tau tarifnya berapa. Hehe. Lagian kita kan mbolangnya on foot. Haram kalo pakek kendaraan (kecuali
naik kuda atau dokar).
Masih di sekitaran jalan Thamrin kita
nemu pasar loak. Lebih tepatnya para pedagang barang bekas yang berhimpun di
satu tempat itu. Entah barang bekas dipakai terus dibuang atau barang ‘bekas’
punya orang yang tidak dibuang tapi muncul di lapaknya para pedagang tersebut.
Hehehe. Macem-macem pula yang dijual. Ada onderdil sepeda tua, PCB, tas, sepatu
butut, jam tangan, hape, bahkan blackberry! Kira-kira ada BB Bellagio gak ya?
Hmmm...
*oude
nederlandse huizen
Dari pasar loak kita belok ke Jalan
Kartini. Di jalan ini kita nemu Nederlands
huis kosong yang ayu ting-ting tenan.
Gaya bangunannya sih sama seperti semua rumah Belanda lain. Ada teras kecil
yang dikelilingi tembok rendah. Jendela besar yang menghadap jalan. Ada semacam
garasi di samping rumah yang sejalan dengan pagar masuk.
Rumah ini tembok depannya dicat warna
krem jadi memberikan kesan hangat. Sekilas melihat dari sela-sela pintu yang
menutup jalan garasi tadi kayaknya bagian belakang rumah ini juga luas deh. Mungkin
kalo Legipait mau pindah ke tempat yang lebih gede bakal bagus ni rumah. Tapi
sayang pagarnya digembok jadi kita cuma bisa melihat dari luar. Sayang gak
ngambil fotonya. (Akhirnya aku pergi lagi ke Malang untuk melengkapi foto blog ini. Di foto ini pekarangannya sudah dibersihkan. Waktu mbolang dulu rumput2nya gak beraturan soalnya).
| menyenangkan untuk dilihat |
Kita menemukan rumah Belanda lain
setelah berjalan melewati dua atau tiga rumah setelah rumah krem tadi. Rumah ke-dua
ini lebih luas pekarangannya tapi nuansanya lebih suram. Selain karena
pekarangannya gak terurus (namanya juga rumah kosong) warna cat rumahnya itu hitam/abu-abu.
Makanya keliatan suram seram gitu. Tapi rumah yang ke-dua ini ternyata pagarnya
tidak digembok jadi kita bisa masuk ke dalam untuk melihat-lihat. Anggap aja jadi
orang kaya yang mau beli rumah padahal asline
me’ dua pengangguran lagi jalan-jalan. Hahaha!
| hitam/abu-abu? maap salah nyebut warna :-p |
Seperti yang kutulis di atas, rumah
ke-dua ini memiliki nuansa suram seram. Coba nuansa bening pasti bakal ada Vidi
Aldiano nongol di situ hehehe…Entah sugesti ato apa sewaktu masuk dan mendekati
rumah yang ke-dua ini kok bulu rhoma irama jadi merinding ya. Padahal aku ini
lulusan Psikologi, sudah pernah mempelajari tentang teori sensasi, terutama
tentang rasa takut yang sampek ada
empat teori itu. Tapi kalo sudah menghadapi situasi kayak gini, lali kabeh wes! Yang diingat cuma
pelajaran agama waktu SMP, kalo masuk tempat yang baru sebaiknya mengucapkan
salam dalam hati. And that I did. Assalamualaikum…
Tapi karena sudah terlanjur buka pagar
masak ya mundur. Sekalian aja liak-liak.
Masih asik melihat-lihat sekitar dan mengintip via pintu garasi, Ni Sanak sudah
mendekati pintu masuk dan mengintip ke dalamnya. Karena penasaran juga gimana isinya
akhirnya mengintip jugalah diriku. Wow keren! Tekelnya masih tempo doeloe. Hiasan
dindingnya pun juga masih tempo doeloe. Apa dulunya meneer pemilik rumah kabur buru-buru waktu Nippon masuk ya? Anyway the interior is old-schoolly-cool!
Sayang cuma bisa ngintip ruang tamunya. Tapi kalo dipikir-pikir untung cuma
bisa ngintip doang.
Gimana nggak? Pas ngintip itu ada perasaan
"wow keren" dan "merinding bulu rhoma irama" secara
bersamaan. Kan gak keren aja kalo pas ngintip tiba-tiba ada anak perempuan bule
pakek daster putih ngintip dari balik tembok. OMG!! Bisa-bisa masuk koran kita
berdua dengan tajuk "Dua Orang Pengangguran Ditemukan Tewas
Pingsan di Depan Rumah Tua"!! Ahahaha…Puas ngintip dan mendirikan bulu
rhoma irama kita pamit (entah ke siapa) dan meneruskan perjalanan ke tempat bakso
bakar.
bersambung...
Glosarium:
and that i did : dan itulah yang kulakukan
anyway the interior is old-schoolly-cool : biarpun gitu
interiornya jadul-keren
ayu ting-ting tenan : cantik sekali
first stop : pemberhentian pertama
GPS: Global Positioning System
haish mboh kah! sing penting mbolang lah! : tidak tahu lah!
yang penting mbolang deh!
lali kabeh wes : lupa semua deh
lha : lho
liak-liak: melihat-lihat (logat Cina-Surabaya)
nederlandse huizen: rumah-rumah Belanda
ngalor ngidul ngetan ngulon: ke
utara-selatan-timur-barat, maksudnya ke mana-mana
nyulik : menculik
omah londo lawas: oude nederlands huis J
on foot : dengan berjalan kaki
oude nederlands huis: omah londo lawas J
pajajaranstraat : jalan Pajajaran
PCB: tanya toko elektrik terdekat ae yo?..opo
nggoogle’o dhewe..
rendez-vous : pertemuan (bahasa
Perancis)
roaming : wilayah jelajah
sampek : sampai
seh : sih
telece’an
le’ jareku
: bertebaran/berhamburan kalau menurutku
the king always comes later : raja selalu datang
terakhir. Protokol kerajaan Inggris mengenai kehadiran raja/ratu di suatu
acara.
tok wes : ‘hanya itu’; ungkapan untuk
menekankan pada satu hal tertentu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar