ini sambungan mbolang malang pt. 3
Bahgian
ampat
*AUX
GPL alias gak pakek lama sampailah kami di Alun-alun
Tugu. Tempat ini sudah pernah dilewati waktu mbolang part 2. Tetep aja kok gedung-gedungnya.
Balai kota. SMUN 1. SMUN 4. Gedung DPRD. Splendid Inn. Di depan SMUN 4 kita mandeg
minum es degan. Cuacanya sih mendung/berawan tapi kalo abis jalan kaki keliling
kota yo kesel pisan jeh.
| balai kota di latar belakang alun2 tugu |
Waktu minum es degan ada dokar wisata
lewat. Dokar wisata itu berkeliling sekitar alun-alun tugu. Waktu di ‘rusun
Belanda’ tadi ketemu juga sama tuh dokar. Dokar itu lah yang mencetuskan percakapan
berikut ini.
Aku
(A) : he awakmu gak pingin nyoba ditabrak
dokar a?
NS : maksudmu?
A : koyok
sinetron-sinteron iku lo. Lak biasae geger, terus onok sing lari keluar rumah,
moro-moro udan trus ketabrak mobil. Na saiki ketabrak dokar.
NS : trus?
A : ngkok
tak telpone mamamu, ‘halo, siang tante, ini temennya mbak sarie. Anu tante,
mbak sarie ketabrak dokar ini.’
NS : iyo terus mamaku tanya ‘tapi dokarnya gak
pa-pa kan? Kalo anak tante itu tinggal dibawa ke rumah sakit. Rumah sakit kan
banyak. Tapi kalo bengkel dokar tante gak tau nyari di mana dik..’
A+NS : tertawa-tawa di pinggir jalan kayak orang
gila lepas dari Lawang.
Setelah selesai membayangkan skenario sinteron
ketabrak dokar dan tertawa-tawa kita lanjutkan perjalanan.
*rawon tessy
Waktu sampai di Legipait jam masih
menunjukkan belum-pukul-tiga. Itu artinya ntu kafe belum buka. Daripada
nganggur nunggu kafe buka kita putuskan untuk makan dulu. Kita baru sadar kalo
belum makan nasi seharian. Mumpung dekat dengan stasiun jadi ingat kalo ada Rawon
Tessy di deket stasiun yang waktu mbolang part 2 gak sempet disamperin.
Jalan yang dipilih menuju stasiun
melewati pasar klojen. Sebenarnya bisa aja lewat jalan Sultan Agung supaya
lebih dekat. Tapi namanya juga mbolang. Dalane
kudu mbulet. Le' gak mbulet gak mbolang jenenge. Hehehe.
Sampailah di Rawon Tessy. Kita pesen
nasi rawon dua, tempe dua, dan es teh juga dua. Rawonnya enak. Tempenya enak.
Es tehnya pun enak. Enak semua deh. Harganya juga murah. Total habisnya tiga
puluh ribu rupiah. Itu sudah nambah es teh dua gelas.
| enak+murah |
Tapi kalo soal rawon masih lebih enak
rawon di dekat pertigaan jalan Dinoyo. THE
BEST RAWON I'VE EVER HAD! Jadi ingin makan rawon Dinoyo
itu...hmmmm...rawon....
*last
stop
Selesai makan kita melanjutkan
perjalanan kembali ke stasiun. Karena hari sudah menjelang sore dan sesuai
dengan kesepakatan awal untuk mengakhiri mbolang di Legipait maka kuambil motor
dari parkiran stasiun dan membonceng Ni Sanak ke Legipait. Jadi total sudah
tiga (3) kali kita ke sana. Bener-bener "pengacara" kok.
| Legipait |
Legipait tempatnya kecil mungil meh
sak upil. Dulu tempat ini dipakai jualan rujak sebelum ditempati Legipait.
Tempatnya pun old school puooll alias
bangunan tua. Entah waktu jaman VOC dipakek buat apa ni bangunan. Di bagian
luar tempat duduknya bisa digunakan untuk orang banyak. Bangku yang dipakai
seperti bangku kayu jaman sekolah yang biasa dipakai berdua; bertiga kalo di
tingkat SD. Kalo di bagian dalam tempat duduknya hanya bisa untuk berdua atau
bertiga. Ada sebuah rak buku di bagian dalam. Isinya mulai dari novel sampai
majalah yang bisa dibaca di tempat. Di bagian kiri rak buku adalah ruangan
untuk cuci piring dan toilet. Ditutupi kerai dari kerang/manik-manik supaya gak
mengganggu pemandangan para pengunjung. Sedang di kanannya adalah ruang bar
tempat kita pesan dan juga kasir.
Biarpun tempatnya lawas dan kecil
tempat ini selalu ramai. Soalnya enak dibuat nongkrong. Menurutku Legipait ini
lebih berkesan ‘keluarga’ daripada ‘kafe’. Jadi ia punya karakternya sendiri.
Lebih mendekati kopitiam/warkop daripada kafe. Entah karena tempatnya yang
memang kecil jadi membuat kita selalu berdekatan atau karena orang-orangnya
yang memang lebih ramah daripada di kafe lain. Belum ada survei yang dilakukan
jadi yo mboh ker.
Cara pesan di sini itu kita datang ke
bagian bar. Tulis pesanannya apa aja plus tulis nama juga. Serahkan ke kokinya
atau siapa pun yang berada di belakang bar (kadang-kadang aku yang nerima
soalnya sering jadi sukarelawan kalo ke sini walaupun niat awalnya adalah
sebagai pengunjung). Cari tempat duduk dan nanti akan diantar pesanannya. Jadi
kalo mau kerja di sini kudu punya ingatan yang baik atau suara yang keras buat
manggil nama pemesan. Aku pesan jus strawberry sedangkan Ni Sanak tidak pesan
apa-apa. Entah kenapa waktu itu kok selalu ingin pesan jus pink. Apa karena
naluri centil ya? Tinta pahabibi deh
cyint!
| apple juice and strawberry juice |
Aku dan Ni Sanak menempati tempat
duduk di luar soalnya di dalam sudah penuh. Kita duduk di luar itu pun tidak
lama karena ada tempat di pojok bagian dalam yang sudah ditinggal sama
pengunjung sebelumnya. Kepindahan kita juga menyenangkan orang-orang di
belakang kita lho. Jadi mereka itu awalnya hanya ada dua orang saja tapi lama
kelamaan bertambah banyak sampai kekurangan tempat duduk. Untung aja kita
pindah jadi mereka bisa dapat tempat duduk lebih luas. Untungnya lagi, tak lama
setelah itu hujan turun dengan dahsyatnya! Syukur alhamdulillah yah…
Setelah pindah ke dalam barulah Ni
Sanak memesan jus apel. Kita gak pesen makan soalnya masih kenyang. Kalo perut
masih muat sih aku bakal pesan menu yang namanya ‘banana go to hell’ ama pancake. Enak semua itu.
| banana go to hell with pancake |
Karena pemiliknya bisa baca tarot maka
wajar kalo ada kartu tarot numpuk di rak bukunya. Iseng-iseng kuramal Ni Sanak.
Hasilnya adalah benar-benar absurd. Lha
wong asline gak ngerti carae kok. Hehehe. Kita ngafe di sana sampek sekitar
jam setengah enam. Habis itu kuantar Ni Sanak ke Alun-alun Tugu dan kulepas dia
supaya bisa kembali ke habitatnya. Sedangkan aku pulang ke Landungsari.
And
that's the end of mbolang part 3.
Glosarium:
banana go to hell: nama menu di
legipait berupa pisang yang dimasak bersama dengan mentega dan disajikan dengan
gula cair
and that's the end of mbolang part 3 : dan demikianlah
akhir dari mbolang part 3
asline me’ : sebenarnya hanya
AUX : istilah dalam dunia call center yang berarti ‘waktu
istirahat’.
dalane kudu mbulet. le' gak mbulet gak mbolang jenenge : jalannya harus
ruwet. Jika tidak ruwet bukan mbolang namanya.
last stop : pemberhentian terakhir
lha wong asline gak ngerti carae kok : sebenarnya tidak
mengerti bagaimana caranya
old school : gaya lama
Tinta pahabibi deh cyint: tidak mengerti deh
say (jangan tanya bagaimana aku bisa tahu bahasa ini)
THE BEST RAWON I'VE EVER HAD: rawon terenak yang
pernah kumakan
yo kesel pisan jeh : ya capai juga bung
yo mboh ker : ya tidak tahu bung
Tidak ada komentar:
Posting Komentar