ini sambungan mbolang malang pt. 3
Bahgian
tiga
*bromostraat
en arjunastraat
Selesai di toko henpon kita bergerak
lagi. Kita menyeberangi jalan Brigjen Slamet Riyadi yang lagi rame, jalan dikit
ke barat lalu belok ke kiri (baca: utara). Setelah toko peralatan bayi kita belok
kiri dan sampailah di jalan Bromo. Waktu di jalan Bromo ketemu depot mi pangsit
Isor Uwit. Depot mi ini ada di buku wisata kuliner Malang punyaku (yang senantiasa
lupa kubawa kalo mau pergi ke Malang). Tapi karena masih kenyang jadi ya jalan
terus aja. Sampai di jalan Arjuna kita mampir di Lay-lay. Ada cerita lucu kalo
bukan tolol soal Lay-lay ini.
Ceritanya aku mau ketemuan sama
temenku. Dia bilang ketemuan aja di Lay-lay soalnya ada kafe Illy's di
dalamnya. Aku ingat tempatnya karena pernah diajak Doni ke sana. Masalahnya
adalah aku tidak ingat jalan alias rute ke Lay-lay. Jadi batallah pertemuan
kami itu. Padahal lho Lay-lay ini sudah bolak balik bolak kulewati sedjak
doeloe kala. Tadi waktu berangkat pun kulewati! OMG! Bego amat yaaa!..HAHAHA!!
Padahal waktu mbolang part 2 juga udah dilewati lho. Hehehe…
Enough
'bout my stupidity.
Waktu pertama kali ke Lay-lay sama Doni
aku tidak menjelajahi tiap lorong di dalam seperti kebiasaanku kalau masuk ke
supermarket/hypermarket baru. Waktu itu lagi buru-buru mau buka kafe soalnya. Lay-lay
seperti Hokky di Surabaya atau Dunia Buah di daerah Tidar yang berjualan
buah-buahan ama makanan impor. Tapi di Lay-lay ini juga ada bagian dagingnya.
Baru tahu ada yang kayak gitu.
Satu hal yang aneh adalah ada dua toko
roti di dalam. Di dekat pintu masuk sama di dekat bagian kasir. Yang di dekat
kasir itu Komugi, kalo yang di dekat pintu masuk lupa apa namanya. J. Dari jenis roti yang dijual sedikit
beda. Kalo yang di dekat pintu masuk jualannya roti yang sudah umum. Kalo
Komugi, tentu saja, jualannya roti ala Jepang.
Dan mumpung di sana jadi ingat mau nyari
cokelat masa kecilku, Rice Krispies. Aku sih nyebutnya Kandos, karena pabrik
pembuatnya nama Kandos. Cokelatnya rasanya pait-pait manis dengan ada butiran
berasnya yang mbikin kress-kress. Tapi sayang gak ada. Oh well, ntar aja kalo ke Samarinda ku-hunting tu cokelat. Kayaknya ada setengah jam atau lebih kita
gentayangan di dalam Lay-lay. Kita keluar dengan tangan hampa. Untung saja
nggak ada aturan "dilarang gentayangan tanpa membeli".
*pasar kembang
Dari Lay-lay kita berjalan ke arah
jalan Kahuripan. Jalan kaki sampai di perempatan. Nyebrang di zebra cross. Melewati toko Lido yang tetep tutup sejak
mbolang part 2. Sampai di jembatan berhenti lagi. Ni Sanak bilang kalo di bawah
sana adalah tempat pasar kembang di Malang. Karena belum pernah ke sana ya
berbeloklah kita ke sana. Belok kanan tepatnya. Kita gak sempat masuk sampai
dalam ke pasarnya. Cuma jalan aja di jalan utamanya.
| sungai di bawah jembatan |
Selepas dari pasar kembang kita jalan
lagi ke arah alun-alun tugu. Tiba-tiba saja Ni Sanak berbelok masuk ke dalam
komplek rumah Belanda yang pagarnya sudah ditutupi seng. Ada beberapa orang di
lantai dua yang sedang foto-foto. Kayaknya sudah sering dipakai buat photo session di sini. Ni Sanak bilang
dulunya tempat ini adalah rusun (STOP DI SINI).
*Rusun adalah singkatan
untuk rumah susun. Rusun adalah bangunan bertingkat minimal lima atau enam
tingkat dengan banyak kamar-kamar yang digunakan sebagai tempat tinggal bagi
para penghuninya.*
(PLAY LAGI). Rumah yang kita samperin itu
adalah rumah Belanda bertingkat dua. Bangunan besar dengan halaman yang luas.
Di samping kanannya juga ada sebuah rumah Belanda juga. Kata Ni Sanak dulu
kompleks ini digunakan sebagai tempat tinggal untuk beberapa keluarga. Pertanyaan
di kepalaku adalah mana bekas rusunnya? Belum pernah nemu ada rusun di jaman Belanda
di foto-foto tempo doeloe. Kalo pun ada gedung bertingkat biasanya itu kantor.
| rusun(?) |
Setelah melakukan proses interogasi mendalam
ternyata permasalahan utamanya ada pada pemahaman konsep ‘rusun’ Ni Sanak yang berbeda
dari pemahaman kamus Bahasa Indonesia dan khalayak ramai. Baginya bangunan
rumah dengan dua tingkat itu sudah dianggap sebagai 'rusun' atawa rumah susun dua. Hmmm...Ingin
rasanya kumasukkan dirinya ke dalam karung kemudian kulempar ke dalam rumah Belanda
ke-dua di jalan Kartini tadi supaya bisa jadi teman bermain nonik Belanda
berdaster putih...
| ilustrasi nonik Belanda |
Glosarium:
atawa : atau
bromostraat en arjunastraat : jalan Bromo dan
jalan Arjuna
enough 'bout my stupidity : cukup sudah soal
ketololanku
hunting : berburu
ijenstraat : jalan Ijen
oh well : ya sudah lah
photo session : sesi foto, pemotretan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar