Jumat, 17 Februari 2012

Mbolang Malang Pt. 3 bahgian tiga


ini sambungan mbolang malang pt. 3
Bahgian tiga
*bromostraat en arjunastraat
Selesai di toko henpon kita bergerak lagi. Kita menyeberangi jalan Brigjen Slamet Riyadi yang lagi rame, jalan dikit ke barat lalu belok ke kiri (baca: utara). Setelah toko peralatan bayi kita belok kiri dan sampailah di jalan Bromo. Waktu di jalan Bromo ketemu depot mi pangsit Isor Uwit. Depot mi ini ada di buku wisata kuliner Malang punyaku (yang senantiasa lupa kubawa kalo mau pergi ke Malang). Tapi karena masih kenyang jadi ya jalan terus aja. Sampai di jalan Arjuna kita mampir di Lay-lay. Ada cerita lucu kalo bukan tolol soal Lay-lay ini.
Ceritanya aku mau ketemuan sama temenku. Dia bilang ketemuan aja di Lay-lay soalnya ada kafe Illy's di dalamnya. Aku ingat tempatnya karena pernah diajak Doni ke sana. Masalahnya adalah aku tidak ingat jalan alias rute ke Lay-lay. Jadi batallah pertemuan kami itu. Padahal lho Lay-lay ini sudah bolak balik bolak kulewati sedjak doeloe kala. Tadi waktu berangkat pun kulewati! OMG! Bego amat yaaa!..HAHAHA!! Padahal waktu mbolang part 2 juga udah dilewati lho. Hehehe…
Enough 'bout my stupidity.
Waktu pertama kali ke Lay-lay sama Doni aku tidak menjelajahi tiap lorong di dalam seperti kebiasaanku kalau masuk ke supermarket/hypermarket baru. Waktu itu lagi buru-buru mau buka kafe soalnya. Lay-lay seperti Hokky di Surabaya atau Dunia Buah di daerah Tidar yang berjualan buah-buahan ama makanan impor. Tapi di Lay-lay ini juga ada bagian dagingnya. Baru tahu ada yang kayak gitu.
Satu hal yang aneh adalah ada dua toko roti di dalam. Di dekat pintu masuk sama di dekat bagian kasir. Yang di dekat kasir itu Komugi, kalo yang di dekat pintu masuk lupa apa namanya. J. Dari jenis roti yang dijual sedikit beda. Kalo yang di dekat pintu masuk jualannya roti yang sudah umum. Kalo Komugi, tentu saja, jualannya roti ala Jepang.
Dan mumpung di sana jadi ingat mau nyari cokelat masa kecilku, Rice Krispies. Aku sih nyebutnya Kandos, karena pabrik pembuatnya nama Kandos. Cokelatnya rasanya pait-pait manis dengan ada butiran berasnya yang mbikin kress-kress. Tapi sayang gak ada. Oh well, ntar aja kalo ke Samarinda ku-hunting tu cokelat. Kayaknya ada setengah jam atau lebih kita gentayangan di dalam Lay-lay. Kita keluar dengan tangan hampa. Untung saja nggak ada aturan "dilarang gentayangan tanpa membeli".

*pasar kembang
Dari Lay-lay kita berjalan ke arah jalan Kahuripan. Jalan kaki sampai di perempatan. Nyebrang di zebra cross. Melewati toko Lido yang tetep tutup sejak mbolang part 2. Sampai di jembatan berhenti lagi. Ni Sanak bilang kalo di bawah sana adalah tempat pasar kembang di Malang. Karena belum pernah ke sana ya berbeloklah kita ke sana. Belok kanan tepatnya. Kita gak sempat masuk sampai dalam ke pasarnya. Cuma jalan aja di jalan utamanya. 
sungai di bawah jembatan
Selepas dari pasar kembang kita jalan lagi ke arah alun-alun tugu. Tiba-tiba saja Ni Sanak berbelok masuk ke dalam komplek rumah Belanda yang pagarnya sudah ditutupi seng. Ada beberapa orang di lantai dua yang sedang foto-foto. Kayaknya sudah sering dipakai buat photo session di sini. Ni Sanak bilang dulunya tempat ini adalah rusun (STOP DI SINI).
*Rusun adalah singkatan untuk rumah susun. Rusun adalah bangunan bertingkat minimal lima atau enam tingkat dengan banyak kamar-kamar yang digunakan sebagai tempat tinggal bagi para penghuninya.*
(PLAY LAGI). Rumah yang kita samperin itu adalah rumah Belanda bertingkat dua. Bangunan besar dengan halaman yang luas. Di samping kanannya juga ada sebuah rumah Belanda juga. Kata Ni Sanak dulu kompleks ini digunakan sebagai tempat tinggal untuk beberapa keluarga. Pertanyaan di kepalaku adalah mana bekas rusunnya? Belum pernah nemu ada rusun di jaman Belanda di foto-foto tempo doeloe. Kalo pun ada gedung bertingkat biasanya itu kantor. 
rusun(?)
Setelah melakukan proses interogasi mendalam ternyata permasalahan utamanya ada pada pemahaman konsep ‘rusun’ Ni Sanak yang berbeda dari pemahaman kamus Bahasa Indonesia dan khalayak ramai. Baginya bangunan rumah dengan dua tingkat itu sudah dianggap sebagai 'rusun' atawa rumah susun dua. Hmmm...Ingin rasanya kumasukkan dirinya ke dalam karung kemudian kulempar ke dalam rumah Belanda ke-dua di jalan Kartini tadi supaya bisa jadi teman bermain nonik Belanda berdaster putih...
ilustrasi nonik Belanda
 
Glosarium:
atawa : atau
bromostraat en arjunastraat : jalan Bromo dan jalan Arjuna
enough 'bout my stupidity : cukup sudah soal ketololanku
hunting : berburu
ijenstraat : jalan Ijen
oh well : ya sudah lah
photo session : sesi foto, pemotretan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar